oleh

Praktik Jurnalistik Combative Lens, Ketum JMSI: Objektivitas Jadi Kabur Bahkan Hilang

-Nasional-68 views

Liputankota- Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa menyoroti praktik jurnalistik yang masih menggunakan combative lens. Yang melihat dialog sebagai sebuah pertempuran yang harus berakhir dengan kemenangan dan kekalahan.

Hal ini membuat objektivitas menjadi kabur bahkan hilang,” tegas Teguh ketika berbicara dalam diskusi virtual bertajuk “Membaca Diplomasi Indonesia”, Minggu siang (5/7/2020).

Teguh mengeluhkan, masih terlalu banyak informasi yang ditulis wartawan menggunakan combative lens.

“Seolah-olah setiap dialog harus diakhiri dengan siapa yang menang dan siapa yang kalah,” ujar mantan Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat ini.

Teguh mencontohkan bagaimana respon kalangan wartawan dan media mengenai kabar kematian pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, yang begitu ramai di bulan April lalu.

Karena sudah diberitakan media-media besar luar negeri, berita itu pun ditelah begitu saja oleh media-media di Indonesia.

“Saya berusaha untuk mencari tahu ke kontak-kontak yang saya punya, baik di Jakarta maupun di Pyongyang. Dan saya menemukan informasi yang saya yakini bahwa ia berada dalam keadaan yang baik-baik saja,” katanya lagi.

Setelah mendapatkan klarifikasi itu, Teguh membagikan informasinya ke kalangan wartawan. “Mereka tanya: mana buktinya. Saya katakan: ini lucu. Waktu kalian menerima informasi pertama yan mengatakan Kim Jong Un meninggal dunia, tidak seorang pun yang bertanya mana buktinya. Tetapi ketika ada informasi yang saya sampaikan untuk menjelaskan sisi yang lain, semua ribut dan mempertanyakan buktinya,” urai Teguh.

Teguh mengatakan, penelusuran yang dilakukannya adalah bagian dari upaya untuk mendekati fakta, agar tidak sekadar larut dalam desas-desus yang berkembang.

Meski begitu, Teguh tidak menyalahkan media yang ikut mengabarkan desas-desus kematian Kim Jong Un pada saat itu.

“Karena jurnalistik itu tidak tentang kebenaran final atau kebenaran ilahiah. Tetapi kebenaran yang sifatnya fungsional yang menjawab pertayaan pada ruang dan waktu tertentu,” demikian Teguh.

Dalam diskusi virtual bertajuk “Membaca Diplomasi Indonesia” itu, penyelenggara diskusi virtual mengatakan bahwa Teguh mendalami sejumlah isu internasional seperti sengketa Sahara Barat dan konfilik di Semenanjung Korea.

Untuk sengketa Sahara Barat, ia pernah diundang PBB untuk berbicara di Komisi IV PBB yang membidangi masalah politik khusus dan dekolonisasi.

Berita lain: Jadi Alat Perang Paling Canggih, Ketum JMSI Tegaskan Peran Media Sangat Penting.

Pada tahun 2010 Teguh mendirikan Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko dan masih menjadi presiden di organisasi itu.

Sementara untuk konflik di Semenanjung Korea, pengalaman Teguh terbilang unik. Ia dapat mengunjungi kedua negara itu dan berkomunikasi dengan pejabat dan masyarakat di kedua Korea. Sejak 2009 Teguh dipercaya sebagai Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea.

Tahun lalu dirinya diundang menjadi pembicara dalam seminar internasional mengenai proses perdamaian di Semenanjung Korea yang diselenggarakan organisasi wartawan Korea Selatan.(Tom)

Komentar

News Feed