oleh

Tagih Debitur Meninggal, Ananta: BRI Harus Jaga Image Sebagai Bank “Wong Cilik”

Liputankota-Kunjungan kerja spesifik (Kunspek) Komisi VI DPR RI ke Banten dengan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Senin 25 Januari 2021, anggota DPR RI dari Dapil Banten III, St. Ananta Wahana, SH, mengingatkan BRI untuk tetap menjaga image sebagai bank-nya “wong cilik”.

Karena menurut politisi PDI Perjuangan ini, ketika ia turun ke lapangan menemui konstituennya, sering kali menerima keluhan, mulai dari penyaluran Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM), sampai adanya penagihan dari pihak BRI terhadap keluarga nasabah, yaitu debitur yang sudah meninggal dunia.

Terkait penyaluran BPUM, kata Ananta, sistem pencairannya di setiap di wilayah Dapilnya, yaitu Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangsel, yang berbeda-beda. Ananta menilai, dalam kondisi ini BRI seperti tidak memiliki standar yang jelas. Kalau sudah ada datanya, kata Ananta, bagikan saja, tidak perlu berbelit-belit, karena ini untuk orang miskin.

“Kita juga tidak tahu seperti apa standar penyaluran, karena ada yang namanya pawang hujan itu dapat, tapi pengusaha gorengan malah justru persyaratannya njlimet. Ngurus Rp2,4 juta tapi ngurusnya bisa sampai tiga hari,” kata Ananta.

Mengenai adanya petugas BRI yang terus melakukan penagihan terharap keluarga nasabah atau debitur yang sudah meninggal dunia, bahkan sampai memberikan surat peringatan, Ananta sangat menyayangkan. Karena, kata Ananta, isteri dan keluarga yang ditinggalkan, masih dalam kesulitan ekonomi, apalagi di tengah pandemi COVID-19.

“BRI harus menjaga image sebagai Bank-nya wong cilik, Bank-nya wong ndeso. Dan, ketika saya menemui konstituen, ini ada keluhan bahwa BRI meneror, menagih ke keluarga nasabah, debitur yang sudah meninggal sekitar setahun yang lalu,” terangnya.

Pun demikian, ketika menyinggung soal program CSR, Ananta mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh pihak BRI terhadap konstituennya di daerah pemilihannya. Hanya saja, Ananta meminta program tersebut lebih dimaksimalkan.

Baca: Pasien Sembuh Covid-19 Kabupaten Serang Capai 1.608 Jiwa

Sementara itu, menanggapi soal adanya penagihan terhadap keluarga nasabah atau debitur yang sudah meninggal, Agus Noorsanto selaku Direktur Hubungan Kelembagaan dan BUMN, menjelaskan, pihaknya akan melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut. Karena, kata Agus, pihaknya baru menerima laporan hari ini terkait hal itu.

“Pada prinsipnya sebetulnya kita melakukan sesuai fungsi masing-masing, petugas dan lain sebagainya. Saya kira ini perlu dalami, seperti apa sih. Apakah ini kesalah pahaman atau apa. Tapi akan kami dalami. Karena saya belum tahu, baru dapat, jadi akan kami dalami dulu,” papar Agus Noorsanto singkat.(red)

Komentar

News Feed