oleh

Pengamat Politik Timur Tengah Optimis Ada Solusi Damai untuk Israel-Palestina

Liputan Kota – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarief Hidayatullah bekerja sama dengan Persatuan Mahasiswa Perbandingan Madzhab Hukum Se-Indonesia PPMH-SI menggelar webinar nasional yang bertemakan ‘Tragedi Palestina : Konflik Tak Kunjung Usai Jalur Gaza Tak Kunjung Damai’, Senin, 31 Mei 2021.

Webinar disambut antusias oleh seluruh kalangan mahasiswa dan para akademisi di Indonesia.

Dalam webinar tersebut, Pengamat Politik Timur Tengah Abdul Muta’ali mengatakan, ‘Hukum Humaniter Internasional’ disinyalir tidak dapat menembus bumi Palestina. Pasalnya sejak bertahun-tahun lamanya kejahatan tersebut terus terjadi tanpa adanya tindakan dalam dunia hukum Internasional.

Menggambarkan kondisi di sana, Muta’ali menerangkan, harga nyawa jika dibandingkan dengan makanan pokok justru lebih mahal makanan pokok.

Meski demikian, Muta’ali tetap optimis akan adanya jalan terang yang dapat menjadi solusi perdamaian.

“Tidak akan pernah ada kezaliman dan kejahatan yang abadi di dunia ini,” ujarnya kepada peserta.

Selain dihadiri oleh Pengamat Politik Timur Tengah, webinar juga dihadiri beberapa pakar yang ahli dalam bidangnya, di antaranya adalah Rektor INAIFAS Jember Rizal Mumazziq yang menyoroti fenomena tersebut dalam kacamata Hak Asasi Manusia (HAM) dalam perspektif agama.

“Bukan hanya Islam yang melindungi dan menjunjung tinggi ajaran Hak Asasi Manusia, namun kejahatan HAM adalah tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama manapun, di mana salah satu bentuk perlindungannya adalah dengan menghormati nyawa dan hak hidup orang lain,” terangnya.

Lalu Dosen International Human Rights Law Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Irfan Rahmat Hutagulung yang membahas melalui perspektif International Human Rights Law mengatakan, tragedi yang terjadi antara Israel dan Palestina tidak dapat dikatakan hanya sebuah konflik belaka.

Namun, Irfan menjelaskan, lebih tepat dikatakan sebagai sebuah aneksasi dan penjajahan.

“Di mana kini Gaza menjadi penjara terbuka pertama yang pernah ada di dunia,” ungkapnya.

Terkait pembahasan tersebut, Aktivis HAM dan Relawan Kemanusiaan Heru Susatyo menjelaskan, untuk mengatasi konflik yang berkepanjangan ini setidaknya pada tanggal 27 Mei lalu dewan HAM PBB telah membentuk sebuah tim penyelidik untuk mengkaji kejahatan-kejahatan HAM yang terjadi di Palestina.

“Namun meski demikian bahwa kabar bahagia ini tentu tidak dapat memberikan harapan banyak pada rakyat Palestina dan pemerduli HAM di seluruh dunia, pasalnya tak sedikit pula aturan PBB yang nyata-nyata telah dilanggar dan ditembus oleh Israel itu sendiri,” katanya.(Def/Yan)

Komentar

News Feed